Siau. Pulau di bagian Utara Sulawesi ini nampak seperti gunung di tengah laut. Tanahnya limpah dengan pala dan kelapa, yang terberi oleh Sang Khalik sejak kekal. Pantainya berbatu dan berpasir indah, bersih. Terdapat dua gunung; satunya aktif sedangkan yang satu kebalikannya. Gunung Karangetang hingga hari ini masih menyemburkan lahar seraya menebar suara gelegar. Para pendatang selalu heran dengan penduduknya yang cuek terhadap aktivitas vulkanis bersuara dahsyat, bergemuruh itu. Terhadap turis manca negara, beberapa orang Siau malah bilang: many people don’t care about it. Malam hari, semburan lahar di puncak gunung justru memberi pemandangan indah, seperti kembang api raksasa. Sementara gunung Tamata hanya diam bak sosok mistis. Pemukim pulau Siau sangat religius. Penduduknya banyak tersebar di desa-desa.
Saya lahir di salah satu desa di pulau kecil ini, di kaki dua gunung tadi. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, saya diminta oleh ibu untuk tinggal bersama kakaknya yang hidup sendiri. Kami tinggal jauh dari perumahan penduduk, di kebun. Manakala tersebar gossip adanya sekelompok orang yang mencari kepala manusia (dibunuh), saya ketakutan, terutama saat malam tiba. Tanteku rupanya merasakan ketakutanku, sehingga beliau selalu mengajak saya berdoa saat hari menjelang malam. Seorang anak yang belum lulus SD, yang mendengar gossip pembunuhan, bukanlah perkara gampang untuk bisa tenang, namun kekuatan doa membawaku kepada kedamaian dan kekuatan tak terlukiskan.
Kini, di tengah hiruk pikuk suasana sekitar ditambah pelbagai kenyataan dunia yang hadir dalam kepribadian, tak jarang sulit tercipta suasana batin yang berdoa secara mendalam dan polos. Doa seorang anak polos itulah yang selalu dirindukan. Kadangkala, seorang dewasa kurang mampu berdoa secara mendalam seperti anak kecil yang sederhana, tanpa terganggu oleh pemikiran tentang kerja, tanpa terganggu oleh bisingnya kendaraan dan pelbagai kenyataan yang dirasa mengganggu. Hasil doa kadang kala hanya deretan kata tanpa efek, baik bagi diri maupun bagi sosialitas. Bahkan doa tanpa katapun, diri ini seperti mayat saja.
Tentu, saya tidak boleh menyalahkan kedewasaan atau menyalahkan dunia sekitar namun suasana diri seperti seorang anak kecil yang bersimpuh dalam ketulusan, tanpa beban, sungguh-sungguh, pasrah-penuh iman tetaplah mungkin dihidupi. Suasana desa dan situasi anak kecil adalah firdaus masa lampau. Kini ia telah tiada, yang ada adalah upaya. Ya, upaya untuk menciptakan diri dengan suasana batin yang matang sebagai keniscayaan bagi yang butuh Tuhannya. Melalui latihan tanpa mengenal pensiun, doa meditatif dan kontemplatif memang akan berhasil. Dan, firdaus itu, dihidupi, bukan karena ketakutan terhadap gossip si jagal.
Saya lahir di salah satu desa di pulau kecil ini, di kaki dua gunung tadi. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, saya diminta oleh ibu untuk tinggal bersama kakaknya yang hidup sendiri. Kami tinggal jauh dari perumahan penduduk, di kebun. Manakala tersebar gossip adanya sekelompok orang yang mencari kepala manusia (dibunuh), saya ketakutan, terutama saat malam tiba. Tanteku rupanya merasakan ketakutanku, sehingga beliau selalu mengajak saya berdoa saat hari menjelang malam. Seorang anak yang belum lulus SD, yang mendengar gossip pembunuhan, bukanlah perkara gampang untuk bisa tenang, namun kekuatan doa membawaku kepada kedamaian dan kekuatan tak terlukiskan.
Kini, di tengah hiruk pikuk suasana sekitar ditambah pelbagai kenyataan dunia yang hadir dalam kepribadian, tak jarang sulit tercipta suasana batin yang berdoa secara mendalam dan polos. Doa seorang anak polos itulah yang selalu dirindukan. Kadangkala, seorang dewasa kurang mampu berdoa secara mendalam seperti anak kecil yang sederhana, tanpa terganggu oleh pemikiran tentang kerja, tanpa terganggu oleh bisingnya kendaraan dan pelbagai kenyataan yang dirasa mengganggu. Hasil doa kadang kala hanya deretan kata tanpa efek, baik bagi diri maupun bagi sosialitas. Bahkan doa tanpa katapun, diri ini seperti mayat saja.
Tentu, saya tidak boleh menyalahkan kedewasaan atau menyalahkan dunia sekitar namun suasana diri seperti seorang anak kecil yang bersimpuh dalam ketulusan, tanpa beban, sungguh-sungguh, pasrah-penuh iman tetaplah mungkin dihidupi. Suasana desa dan situasi anak kecil adalah firdaus masa lampau. Kini ia telah tiada, yang ada adalah upaya. Ya, upaya untuk menciptakan diri dengan suasana batin yang matang sebagai keniscayaan bagi yang butuh Tuhannya. Melalui latihan tanpa mengenal pensiun, doa meditatif dan kontemplatif memang akan berhasil. Dan, firdaus itu, dihidupi, bukan karena ketakutan terhadap gossip si jagal.
Dengan Penuh Sembah Kepada Tuhan,
Johnson Steffan. D.
Johnson Steffan. D.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar